Lucy, kamu di mana?
Kekhawatiran Lily makin menjadi, bercampur dengan kangen yang memuncak. Tidak ada kabar dari Lucy selama tiga hari ini. Padahal Lucy tak pernah absen menemuinya setiap hari.
Lucy! Bales kangenku dong! Aku bisa gila kalau kamu tinggalkan seperti ini! Aku nggak mau sendiri! Aku kangen kamu, Lucy!
*
Di tempat yang berbeda, Lucy menahan tangis. Diam merenungi kasih sayang yang tak mungkin lagi dipersatukan. Dia tak bisa lagi bertemu Lily, tidak bisa. Semesta menolak mentah-mentah kebersamaan mereka.
Lily, maafkan aku. Aku nggak bisa ketemu kamu lagi. Aku ingin sekali ada di sampingmu, tapi maaf aku nggak bisa lagi. Aku harus pergi. Sekali lagi maaf aku meninggalkanmu dengan cara seperti ini. Semoga kamu bahagia tanpa aku.
*
“Lucy… Lucy! Kamu di mana, Lucy?! Lucy!!!”
Lily berontak tak terkendali. Dua orang perawat mencoba menahannya.
“Lily, Lily! Kamu tenang dulu,” Denis ikut membantu kedua perawat itu untuk menenangkannya. Otot-otot tangan Lily yang tegang mulai rileks setelah Denis menyentuh kedua bahunya dengan lembut. Lily perlahan mengenali Denis.
“Dokter, di mana Lucy? Dia nggak datang beberapa hari ini. Ke mana dia? Aku, aku kangen dia, Dok!”
Denis membaca kecemasan di wajah Lily, “Lily, saya akan beritahu di mana Lucy. Tapi kamu tenang dulu, ya.” Lily mengangguk perlahan.
Denis menghela napas, “Lucy memutuskan untuk pergi.”
“Apa? Dia… Dia pergi? Selamanya?”
Denis mengangguk. Lily terkulai lemas, menangis. Denis meminta perawat meninggalkan mereka berdua. Denis merengkuh Lily ke dalam pelukannya.
Terlalu berat untuk Lily melepaskan Lucy. Tapi perpisahan ini adalah bagian dari proses penyembuhannya. Lily telah jatuh cinta pada alter ego-nya sendiri.
***
Jakarta, 18 Januari 2013
#13HariNgeblogFF hari ke-6
sinyaak
January 18, 2013
Waaaah….
Ngak nyangka dia ngomong sama arwah.
Kirain pertama surat, eh rupanya perasaan si cowoknya. Keren.